Kamis, 14 April 2016

Kerja Dunia VS Kerja Akhirat



Man arooda dunya fa'alaihi bil'ilmi
Man aroodal akhirota fa'alaihi bil'ilmi
Man aroodahuma fa'alaihi bil'ilmi

Siapa yang menghendaki dunia, raihlah dengan ilmu
Siapa yang menghendaki akhirat, raihlah dengan ilmu
Siapa yang menghendaki keduanya, raihlah dengan ilmu...

Ilmulah yang menjadi penghubung antara dunia dan akhirat, meskipun terkadang dalam beberapa hal ada dikotomis persepsi antara urusan dunia dengan akhirat. Sesaat Sholat kita hanya untuk akhirat kita, ibadah kita tidak ada hubungannya dengan dunia kita. Padahal ada penghubung yang sangat kuat, yang bahkan tidak bisa diputuskan antara urusan dunia akhirat, yaitu Ilmu Pengetahuan.

Perbedaan yang paling terlihat antara keduanya, yaitu unsur Keikhlasan....
Urusan dunia kita di sibukkan dengan aturan administrasi yang sangat ribet. Ada istilah akreditasi bagi lembaga pendidikan, yang sudah pasti membuat pusing mempersiapkannya. Ada Audit keuangan bagi lembaga lembaga tertentu, yang sudah pasti juga membuat sakit kepala. Ada absensi yang harus selalu diisi oleh semua karyawan/pekerja.

Berbanding terbalik dengan urusan akhirat. Allah tidak menuntut kita untuk mendokumentasikan setiap ibadah kita. Lima kali dalam sehari kita sholat, tidak harus menggunakan absensi, shodaqoh tidak perlu pake audit, berdakwah tidak mesti ada akreditasi. Tentu saja jika kita melakukannya dengan ikhlas.

Jadi....sebuah kekeliruan jika kita mengaplikasikannya secara terbalik. bukankah kita suka mempublish urusan akhirat yang seharusnya hanya kita dan Allah yang tahu. Dan kita sering lupa mendokumentasikan administrasi kerja karena kelalaian.

Bagaimana cara memposisikan urusan dunia dan akhirat dengan benar dan bijaksana? ya tentu saja dengan Ilmu dan keikhlasan.


                                                                                                                salam
                                                                                                              umi hani

Jumat, 13 September 2013

Malaikat kecilku

Malaikat kecilku....
Aku selalu senang jika menyebutmu dengan sebutan malaikat kecil. Bukan karena tubuh kecilmu, atau suara imutmu, tapi lebih pada sebuah kebahagiaan. Bahagia karena engkau begitu istimewa, engkau bagaikan malaikat, melindungiku dari kegalauan, melindungiku dari kesedihan, melindungiku dari ketidakpastian hidup, melindungiku dari keputusasaan, melindungiku dari cercaan, melindungiku dari segala hal terburuk dalam hidupku.

Saat itu duniaku gelap, hampir tak kutemukan cahaya yang bisa menuntunku ke jalan yang disebut dengan kebahagiaan, tertatih aku menapaki jalan hidup. Kadang terseok dan bahkan jatuh dalam keputusasaan tak berujung. Kamu adalah malaikat kecil yang sengaja dikirim Tuhan untukku. Kamu menuntunku bangun dari keterpurukan hanya dengan seuntai senyum polos penuh harap. Kamu bersandar di bahuku dan sebuah energi luar biasa mengalir dalam aliran darahku, menyelinap dalam nadiku, teroksidasi menjadi kekuatan. kamu memelukku dengan tangan mungilmu, dan seketika nafasku selalu terhenti, air mata mengalir, otakku meregang, tanganku gemetar, dan selalu saja pelukmu membuatku menjadi lebih hidup dari sebelumnya.

Malaikat kecilku, malaikat kecilku, aku akan selalu memanggilmu dengan sebutan itu, sebagai bentuk syukurku atas kehadiranmu. Kini sudah 10 tahun usiamu, menemaniku, mengajakku tersenyum, memelukku hangat, membawaku pada dunia yang mengasyikkan, terlalu asyik bahkan. Aku mengenangmu sebagai malaikat kecilku, 10 tahun lalu, hari ini, bahkan sampai aku melihatmu tumbuh menjadi lelaki dewasa yang sukses.